Monday, April 24, 2006

Karakter Jepang (?)

Hmm... berada 4 tahun di Jepang.. ternyata masih belum cukup bagi gw untuk bisa mengenal karakter orang Jepang. Mungkin karena gw terlalu banyak gaul sama orang Indonesia disini.. atau mungkin emang gw belum banyak bergaul erat dengan orang Jepang ? atau karena memang gw kurang memperhatikan..? Yah kehidupan belajar mengajar di kelas Universitas saja nampaknya memang tidak cukup untuk membuat gw mengenal Jepang.

Gw tersadar kalau gw belum terlalu mengenal kepribadian Jepang itu.. gara-gara hari ini gw hadir di acara diskusi panel yang diadakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia Koordinator Daerah Kanto (Tokyo dan Sekitarnya) untuk menyambut mahasiswa-mahasiswa yang baru datang ke Jepang. Yang menjadi pembicara pada diskusi panel tersebut adalah 2 Senpai (kakak kelas) yang sudah berada (belajar di Jepang) lebih dari 10 tahun. Dari diskusi ini .. ada beberapa hal yang membuat gw tersadar, dan sedikit bisa mengerti jalan pikiran orang Jepang yang selama ini membuat gw bingung.. bahkan mungkin berprasangka buruk terhadap mereka.

Terutama materi pendahuluan yang diberikan oleh Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Jepang (Jepang 1 ^_^) Edy Marwanta (yang sedang menyelesaikan program Doktoralnya) membuat gw berpikir lagi tentang kepribadian orang Jepang.

Dalam materi pendahuluannya beliau menyebutkan hal-hal sebagai berikut yang merupakan ciri-ciri kepribadian orang Jepang, yang perlu kita sebagai orang Indonesia perhatikan.

1. Ketepatan Waktu
Kalau ini sih.. mungkin semua orang Indonesia juga tahu. Karena memang Jepang terkenal dengan ketepatan waktunya.. sedangkan orang Indonesia mempunyai pandangan terhadap waktu yang agak bebas (kalau tidak bisa dibilang "ngaret"). Yah.. dan memang benar mungkin "in general" dari yang gw amati, masyarakat Jepang lebih tepat waktu dan menjaga waktu. Walaupun memang seperti teori apapun didunia ini.. pasti ada pengecualian.

2. Jujur
Orang Jepang suka kejujuran ! mungkin kita pertama kali mikir.. "yah.. siapa sih yang gak suka kejujuran ? orang Indonesia juga suka... terus apa bedanya..?" bedanya mungkin, adalah di Jepang mereka menghargai kejujuran walaupun itu berlawanan dengan yang mereka inginkan, dan mereka berusaha untuk fair terhadap hal tersebut.

Contoh nyata mungkin bisa diambil dari kasus berikut. Bagi kita yang Muslim.. sudah jelas haram bagi kita untuk memakan daging babi serta derivatnya, makan daging yang tidak disembelih dengan cara yang halal, dan tidak minum minuma ber-alkohol. Sedangkan adalah kebudayaan Jepang untuk minum sampai mabuk, makan babi.. serta daging sembelihan mereka pun tidak disembelih dengan cara yang halal.

Pada saat kita berinteraksi dengan orang Jepang, hal2 tersebut dihatas akan lebih baik jika kita katakan di depan dengan jelas. Kita terangkan atas masalah agama.. kita tidak bisa melakukan hal tersebut diatas. InsyaAllah dengan demikian orang Jepang akan menghargai kita dan berusaha fair untuk menjaga keyakinan kita. Tentunya dengan konsekuensi.. kita harus konsisten dengan yang kita omongkan.

Ini akan jauh lebih baik, dari pada kita berusaha menghindar dengan alasan-alasan yang tidak jelas yang akhirnya malah menyulitkan diri kita sendiri. Kita beralasan pada diri sendiri "gak enak ngomongnya", "sungkan" dsb. Padahal orang Jepang terutama yang berpendidikan tentu mengerti bahwa di dunia ini begitu banyak perbedaan.. dan mereka InsyaAllah lebih fair.

Dalam masalah menjelaskan kenapa kita harus sholat, dan sebagainya pun sama halnya.

3. Takut mengganggu
(ini mungkin lebih merupakan fenomena di Kota besar saja..)

Kalau di Indonesia, kita bertemu dengan orang di jalan.. adalah hal yang common sense kita berusaha menyapa untuk sekedar basa basi, dengan maksud mempererat hubungan. Kalau kita tidak menyapa, atau orang tersebut disapa tapi tidak membalas.. tentu akan menjadikan hubungan kita "tidak enak" dan merenggang. Dan kita bisa mencap atau dicap sebagai "orang sombong"

Tapi tidak demikian dengan di Jepang. Walaupun bertemu dengan orang yang dikenal.. ada kalanya mereka tidak menyapa, atau diam saja apabila disapa. (Memang tentu saja kasus yang menyapa juga ada). Ini bukan berarti mereka otomatis dapat dicap "sombong", tidak !!

Orang Jepang sangat menjunjung Privasi (walau kadang suka kelewat batas--ini beda lagi), sehingga walaupun mereka kenal.. mereka berusaha untuk tidak menggangu orang tersebut (dengan menyapanya) karena takut orang tersebut sedang sibuk, atau tidak ingin diganggu. (Gw pernah nyapa Sensei (Dosen) dan dicuekin.. hehe.. berarti ada kemungkinan Dosennya bukan marah ke gw.. tapi cuman karena hal ini.. ^_^)

Ini juga hal yang sama kenapa kereta, atau bus di Jepang begitu sunyi.. dan mengapa para penumpang tidak berbincang dengan sesama penumpang.

Tapi hal yang berbeda, kalau dalam lingkungan kerja, atau didalam lab di Universitas, dimana saling menyapa {"Tadaima !! (saya datang kembali)" atau "Sakini Shitsureishimasu (saya pulang duluan)" } adalah hal yang penting agar setiap orang saling mengetahui keberadaan yang lain.

4. Tidak bicara mengenai privasi
Masih berhubungan erat dengan nomor 3.. teman-teman satu lab, atau satu kantor.. tidak saling berbicara tentang keadaan keluarga, istri atau anak. Tidak ada pemasangan foto keluarga di meja kantor.. atau sebagai screen safer di Laptop di Lab.. atau pembicaraan pada saat senggang sesama teman di kantor.. Ini bukan kebiasaan mereka...!! (begitu kata pak Edy Marwanta yang disetujui sama beberapa senpai yang lain)

5. Hubungan 先輩(senpai) 後輩(kohai)
Di jepang itu.. pemanggilan kakak kelas dengan kata Senpai, dan adik kelas dengan kata Kohai adalah hal yang biasa. Bagaimana sistem hierakrinya begitu jelas.. dimana Senpai itu harus dihormati, terkadang lebih berkuasa. Dan Kohai itu harus menghormati, dan terkadang bisa dikuasai oleh Senpai. Ini mungkin terjadi di Indonesia juga, dalam beberapa keadaan tertentu. Tapi di Jepang hal ini merupakan commonsense, dan terjadi dimana-mana. Walaupun sekali lagi tentu saja ada pengecualian pengecualian.
Hal ini mempunyai sisi baik, dimana "orang yang lebih tau", "orang yang lebih tua", "orang yang lebih pengalaman" itu dihormati. Tapi pada saat yang sama mungkin saja tumbuh perasaan "terpaksa menghormati". Atau mungkin juga jadi terlalu berkesan feodal.

6. Tidak memiliki agama
Orang Jepang tidak memiliki agama. Mungkin kalau mereka ditanya mereka akan jawab bahwa mereka itu beragama Shinto..atau Budha.. tapi itu hanya formalitas. Pada kenyataannya mereka itu tidak menganggap penting arti agama. Pada saat mau ujian masuk universitas, mereka beli jimat di Kuil. Pada saat mereka menikah, mereka melakukannya ala barat di Gereja. Pada saat tahun baru, mereka berdoa ke kuil. Mereka merayakan Natal. Pada saat meninggal mereka dikremasi.
Ada pandangan pada mereka.. bahwa agama itu terkadang hanya membuat kekacauan. Mereka melihat banyaknya pertikaian karena perbedaan agama.. dsb.
Orang Jepang memiliki pengertian yang berbeda mengenai konsep Tuhan. Kalau bagi saya yang Muslim.. Tuhan (Allah SWT) adalah Yang Menciptakan segala sesuatu. Tapi tidak demikian bagi orang jepang. Bagi mereka di dunia ini ada alam.. dan di alam tersebut, hidup lah manusia, dan tuhan-tuhan.. secara berdampingan.

Yah itu tadi kira-kira apa yang dibicarakan pada diskusi panel tadi. Walaupun tulisan diatas sebagian isinya merupakan pemahaman gw sendiri terhadap apa yang dibicarakan di diskusi tersebut..

Gw jadi merenung.. perlu berapa tahun lagi sampai gw benar2 mengenal Jepang..? atau apakah gw gak akan pernah bisa mengenal Jepang yang sebenarnya..? atau memang gw gak perlu mengenal Jepang..?

Tapi setidaknya ini mengingatkan kepada diri gw.. bahwa gw mungkin bisa memberikan penilaian "apa perbuatan yang baik", "apa perbuatan yang buruk" bagi gw.. tapi sama sekali tidak berhak men"judge" "siapa yang baik", "siapa yang buruk..."

4 comments:

si cHanTiQue said...

hmm..kenalan gw ktnya baru bisa akrab sama orang jepang setelah 5 tahun disini (tp lo dah mau thn ke 5 yak..=P)..ngenal orang jepang emang susah,,kapan itu honne(yg sebenernya) dia, kapan tatemae(yg trlihat di permukaan) nya, buat orang asing kadang2 suka bikin bingung..

nani-san yori said...

Kenkyuushitsu ni haittaram, nihon-jin no hontou no seikaku wo motto wakaru youni naru yo.

Sukma said...

Yah, semoga aja gw bisa mengenal mereka dengan lebih baik.

Anonymous said...

emang mas dsna kul dpt beasiswa atw wmg pgn dsna??knp plh jpn?? emg lbh bgs dr d eropa? biaya hdp dsna kn mhl bgt